Pertama kali

Sakmbeling-mbelingnya diriku, aku tetap tak bisa untuk tidak lagi kembali ke tanah leluhurku. Momen lebaran, sungguh sangat berkuasa mencegahku untuk terus melangkahkan kaki njajah deso milang kori. Suara-suara wirid dan tilawah akhir ramadhan seakan mengingatkan, kemana aku harus kembali. Suara-suara takbir, selalu menggiringku untuk pulang. Tapi tidak untuk kali ini. Romantisme lebaran di kampung halaman terpaksa harus dikalahkan dengan rasio. Tak mungkin, betul-betul tak mungkin bagi diriku memaksakan mengikuti kehendak hati. Diri telah terkungkung jerat kapitalisme. Terbelenggu hukum penawaran dan permintaan. Di mana isi kantong tak lagi kuasa menjangkau wahana untuk terbang kembali. Di mana konstrain waktu membatasi langkah gerakku.

Maka, kali pertama aku menjalani suasana lebaran di negeri orang. Di rantau, jauh dari hiruk pikuk takbir. Tak ada balal dan ujung. Tak ada trah Kertowiryan, Padmosendjajan atau Selosentanan. Sepi. Sendiri. Malam ini pun sudah terasa. 10 orang mencoba mengalahkan rasa mamring dengan meneriakkan kalimat mengagungkanNya. Tetap saja, suara-suara yang membelah atmosfer sekitar masjid kampus ini, tak mampu menepiskan sepi, sunyi dan kegalauan hati.

Beruntung, masih ada dua bidadari di sampingku. Kalianlah penguat hatiku. Menjalani hari-hari sepi ini. Terimakasih, kekasih hatiku. Kalian telah membantu membimbingku menuju kekasih yang sejati.

Ujung Ramadhan, 4 jam menjelang shalat Ied, Pahang

4 comments ↓

#1 edratna on 10.01.08 at 2:18 pm

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Kemarin anak dan menantuku telepon dari Miami, dikira di Jakarta udah Lebaran….mereka seneng sekali ketemu orang Indonesia saat belanja di Wall Mart, jadi bisa ikutan pesta ketupat.
Lebaran di negara orang memang berbeda…walaupun seperti saya, Lebaran yang berbeda hanya adanya tamu yang datang, adik-adik beserta anak isterinya…dan karena keluarga kecil, ya cuma satu adik. Adik yang lainnya hanya telepon….selain itu hanya sedia ketupat, beserta embel-embelnya….sangat sederhana tanpa embel-embel lain.

#2 moh arif widarto on 10.01.08 at 9:40 pm

Berbahagialah Sampeyan sekeluarga mendapat nikmat berlebaran di rantau dengan segala sunyi yang menyertai. Dengan pengalaman itu saya yakin Sampeyan mendapatkan hikmah bahwa berkumpul bersama keluarga ternyata merupakan nikmat yang tiada tara.

#3 iway on 10.07.08 at 8:16 am

sugeng dinten riyaya pak :D

#4 erander on 10.17.08 at 6:58 am

Subhanallah .. semua itu sudah diatur oleh-Nya. Dengan kejadiaan yang mas Nudee alami saat ini, Dia ingin menunjukan sesuatu, apakah ibadah mas Nudee itu semata² hanya untuk-Nya atau sekedar ritual hidup belaka yang terikat dengan kebiasaan dan adat istiadat.

Moral pengalaman yang mas Nudee alami, menurut saya begitu dalam .. sepertinya, Allah sedang dekat dengan mas Nudee. Ingin dilihat-Nya ketawakalan kita. Apakah ketika kita merayakan kemenangan itu sebagai ’show off’ kita atau sebagai rasa menundukan togok didalam hati.

Saya sudah 6 lebaran tidak pulang kampung mas. Sengaja. Orang² menganggap saya tidak cinta orang tua, keluarga dan kampung halaman. Saya coba memberi makna baru tentang arti idul fitri.

Oya, saya malah belum minta maaf nih saya mas Nudee, habis banyak banget blog-nya. Ini pun saya ga tahu apakah mas Nudee masih berkunjung kesini. Mudah²an masih ada stock maaf buat saya.

Leave a Comment

burung