Sakmbeling-mbelingnya diriku, aku tetap tak bisa untuk tidak lagi kembali ke tanah leluhurku. Momen lebaran, sungguh sangat berkuasa mencegahku untuk terus melangkahkan kaki njajah deso milang kori. Suara-suara wirid dan tilawah akhir ramadhan seakan mengingatkan, kemana aku harus kembali. Suara-suara takbir, selalu menggiringku untuk pulang. Tapi tidak untuk kali ini. Romantisme lebaran di kampung halaman terpaksa harus dikalahkan dengan rasio. Tak mungkin, betul-betul tak mungkin bagi diriku memaksakan mengikuti kehendak hati. Diri telah terkungkung jerat kapitalisme. Terbelenggu hukum penawaran dan permintaan. Di mana isi kantong tak lagi kuasa menjangkau wahana untuk terbang kembali. Di mana konstrain waktu membatasi langkah gerakku.
Maka, kali pertama aku menjalani suasana lebaran di negeri orang. Di rantau, jauh dari hiruk pikuk takbir. Tak ada balal dan ujung. Tak ada trah Kertowiryan, Padmosendjajan atau Selosentanan. Sepi. Sendiri. Malam ini pun sudah terasa. 10 orang mencoba mengalahkan rasa mamring dengan meneriakkan kalimat mengagungkanNya. Tetap saja, suara-suara yang membelah atmosfer sekitar masjid kampus ini, tak mampu menepiskan sepi, sunyi dan kegalauan hati.
Beruntung, masih ada dua bidadari di sampingku. Kalianlah penguat hatiku. Menjalani hari-hari sepi ini. Terimakasih, kekasih hatiku. Kalian telah membantu membimbingku menuju kekasih yang sejati.
Ujung Ramadhan, 4 jam menjelang shalat Ied, Pahang